Otomotif

Jatuhnya Sang Goliat Otomotif

8 August 2009 1,673 views penulis: Print This Post Print This Post
gm_vehiclesTanggal 1 Juni 2009 menjadi sejarah penting bagi industri otomotif dunia. Industri otomotif terbesar di dunia, GM (General Motors), jatuh bangkrut dan terpaksa harus menjadi pengemis meminta bantuan pemerintah AS. Bayangkan, perusahaan senior yang sudah berusia 1 abad ini, dengan jumlah pegawai terakhir sekitar 244 ribu orang, dan prestasi sebagai penjual mobil terbanyak di dunia dengan rekor penjualan sebesar 8.35 juta di tahun 2008 ini harus ambruk diterpa badai krisis keuangan yang dipicu tumbangnya perusahaan sekuritas Lehman Brothers, September 2008 lalu.

Lalu mengapa sang goliat otomotif itu bisa jatuh dengan mudah? sebabnya sederhana saja. Karena sang goliat lupa mengasah gergajinya dan gagal menciptakan produk inovatif yang sesuai dengan permintaan pasar. Perusahaan otomotif Amerika yang dikenal dengan istilah Big Three (GM, Ford dan Chrysler) kalah selangkah (atau beberapa langkah?) dari perusahaan otomotif Jepang seperti Toyota dan Honda, yang telah melahirkan produk ramah lingkungan seperti mobil hibrid.   Toyota pertama kali mengeluarkan produk mobil hibrid Prius pada tahun 1996, dan sekarang teknologi hibrid telah diperluas ke produk lain seperti kendaraan keluarga Estima, sedan Camry, dan bahkan merk mewah seperti Lexus. Dengan teknologi hibrid, mobil Prius bisa menghemat pemakaian bensin dengan efisiensi 30km per liter. Sementara GM dan kawan-kawannya masih asyik bermain di mobil SUV dan pick-up truk yang berbodi besar, bermesin besar dan sekaligus boros energi. Mobil GMC Sierra misalnya hanya memiliki efisiensi pemakaian bahan bakar maksimum 6 km per liter. Sangat jauh bedanya!

Bagi GM sendiri, fokus ke produksi mobil besar ini bukan tanpa alasan. Mobil besar ini sangat digemari orang Amerika mengingat jalanan yang lebar, serta mampu mengangkut barang-barang besar, sangat ‘macho’ untuk pamer kekuatan. Selain itu keuntungan yang diperoleh jauh lebih besar dibandingkan dengan mobil kecil yang ditekuni perusahaan otomotif Jepang. Ditambah lagi, GM tidak harus mengeluarkan dana yang besar untuk R&D teknologi dan produk terbaru. Namun rupanya GM kurang awas dengan tren perkembangan dunia yang semakin menginginkan produk yang hemat bahan bakar dan ramah lingkungan. Tamparan awal terjadi sewaktu harga bbm dunia naik bahkan mencapai harga lebih dari 100 dolar US per barel. Terpaan semakin menjadi-jadi ketika terjadi krisis kredit rumah murah. Puncaknya terjadi ketika Lehman Brothers hancur, diikuti beberapa perusahaan keuangan lainnya. Maka penjualan GM selalu turun setiap bulan secara konsisten. Dan akhirnya GM (lama) harus mengembuskan nafas yang terakhir.

Bagaimana dengan Toyota? Seluruh perusahaan juga mengalami akibat dari krisis keuangan dunia. Tak terkeculai Toyota, raksasa ini juga mengalami penurunan penjualan. Bahkan, laporan keuangan tahun ini menunjukan Toyota pertama kali mengalami kerugian setelah 50 tahun. Namun bedanya dengan GM, Toyota memiliki masa depan yang lebih cerah. Ya, produk inovasinya mengalami kenaikan penjualan! Bahkan di bulan Juli ini, beberapa pabrik harus lembur lagi untuk mengejar inden mobil Prius sampai 8 bulan ke depan. Ya, di tengah tren penurunan penjualan otomotif, mobil hibrid menjadi incaran utama para calon pembeli. Mobil hibrid Insight keluaran Honda sejak bulan Februari lalu laris keras, tertolong dengan harganya yang sangat miring untuk ukuran mobil hibrid, sekitar 1.89 juta yen. Tidak lama kemudian Toyota membalasnya dengan meluncurkan Prius Generasi Ketiga dengan harga 2.05 juta yen, namun dengan tingkat konsumsi bbm yang lebih hemat dari Insight. Di balik itu ada juga pengaruh dari kebijakan Pemerintah Jepang untuk pengurangan pajak bagi pembelian produk-produk yang hemat bahan bakar dan ramah lingkungan seperti mobil hibrid, sejak bulan April lalu.

Bagaimana kualitas masing-masing mobil hibrid ini? Kita lanjutkan di ulasan berikutnya.



Daftarkan di social page berikut (klik untuk submit):



5 Comments »

  • Achmad said:

    Kejatuhan GM bukan sekedar karena masalah inovasi teknologi. Tetapi, faktor terpenting adalah fix cost mereka, terutama gaji pegawai, jauh lebih besar dari Toyota. Sehingga harga tidak competitif. Alasan lain adalah mereka terlalu banyak brand, seperti Buick, Cadillac, chevrolet, Daewoo, GMC, Holden, Hummer, Opel, Pontiac, Saab, Saturn, Vauxhall. Beberapa diantara, seperti Hummer, Potiac dll. adalah golongan mobil besar yang boros bahan bakar.

    Dengan mengajukan proteksi kebangkrutan chapter 11, mereka berharap bisa menata gaji pegawai, brand mobil, hutang dll. untuk tampil lebih kompetitif.

  • Azhari said:

    Saya sepakat dengan Ahmad, bahwa salah satu penyebab bangkrutnya GM adalah cost yang besar. Tapi sepertinya bukan masalah gaji yang jauh lebih besar, tetapi efisiensi proses produksi yang tidak bagus.
    Sejak tahun 2006, GM diperkirakan akan kesulitan bersaing dg Toyota (meski tidak diperkirakan bangkrut) karena biaya produksi yang tinggi.

  • Achmad said:

    Masalah perbedaan gaji, yang paling ringan contohnya buruh pabrik. Gaji buruh pabrik GM/Chrysler/Ford sekitar 28-35 dollar perjam rate biasa + 1.5 (week end atau overtime) + triple kalau libur + fasilitas. Sedang gaji karyawan buruh toyota/Honda sekitar 22- 28 dollar perjam rate biasa, 1.5 ( weekend dan overtime) + fasilitas. Itu baru gaji buruh yang jumlahnya seratus ribu lebih. Belum termasuk gaji karyawan dan eksekutif yang standart Amerika tentunya jauh lebih besar dibanding dengan gaji eksekutif perusahaan Jepang umumnya. Saya tidak heran kalau perusahaan seperti GM menghabiskan cash sekitar USD 3 milyar setiap bulannya. Masalah proses produksi yang memegang peranan besar adalah cost material. Kalau vendornya sama, maka costnya kurang lebih sama, karena qty produksi Toya dengan GM hampir sama. Di US vendor Toyota kebanyakan adalah berasal dari vendor big three juga.

  • Azhari said:

    Vendor sama belum tentu harga dan kualitas sama. Kami menemukan banyak kasus di mana standar setiap konsumen berbeda, meski harganya relatif sama. Artinya vendor terpaksa mengatur margin keuntungan mereka. Di perusahaan kami, pesanan Toyota grup sangat ketat spec dan testnya, tetapi seperti Ford, Nissan, GM, lebih mudah pass-nya. Harganya hampir sama, Toyota tidak mau bayar mahal. Cuma dia menjanjikan sustainability, pesanan banyak dan kontinu selama quality sesuai standar mereka.

  • Fuziansyah (author) said:

    Terimakasih atas masukannya Pak Achmad dan Pak Azhari.
    Memang betul, sebab jatuhnya sang goliat sebenarnya bukan satu faktor saja, tapi banyak faktor. Selain masalah inovasi juga ada di masalah efisiensi produksi. Saya juga punya data bahwa gaji buruh di GM lebih mahal daripada di Toyota Amerika. Ada juga sebab kuatnya serikat buruh dan besarnya beban beaya kesehatan dan pensiun di GM, dll. Ditambah lagi dengan sistem produksi Toyota yang menekankan kaizen dan efisiensi.
    Fokus saya di tulisan di atas adalah, siapa yang tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman akan digilas oleh zaman. Seandainya harga bbm dunia tidak meroket seperti itu, mungkin GM masih bisa bernapas beberapa waktu. Meskipun nanti dilihat dari segi efisiensi dll GM akan tumbang juga suatu saat…

Tuliskan komentar anda!

You must be logged in to post a comment.