Wawancara

SDM Iptek, Tetaplah Optimis

20 August 2009 1,221 views penulis: Infometrik Print This Post Print This Post

writingDalam kesempatan kali ini Infometrik memuat hasil wawancara dengan Prof.Dr.Anung Kusnowo seputar wacana kebangkitan teknologi nasional, antara harapan dan kenyataan. Prof.Anung adalah sosok yang kompeten untuk berbicara soal iptek nasional karena beliau pernah menjabat berbagai posisi penting di bidang pengembangan iptek di Indonesia, antara lain sebagai Deputi Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kepala Pusat Penelitian Fisika LIPI, Ketua Himpunan Fisikawan Indonesia, Ketua Dewan Juri Lomba Penelitian Ilmiah Remaja Indonesia (LPIR) dan Lomba Karya Ilmiah Remaja Indonesia (LKIR).

Infometrik (I) : Melihat kondisi politik dan ekonomi bangsa saat ini, apakah sudah ada titik cerah bahwa sudah saatnya bidang teknologi akan menjadi perhatian berikutnya?

Anung Kusnowo (AK) : Teknologi, atau lebih umumnya ilmu pengetahuan dan teknologi, belum jadi perhatian utama. Salah satu indikatornya dana APBN yang kurang dari 1%PDB, tepatnya cuma 0.2%. Sangat kecil dibandingkan Jepang yang lebih dari 3%. Memang, dalam wacana sudah sering terdengar para elit atau politikus yang menyatakan pentingnya iptek, tetapi hanya sebatas wacana. Belum diikuti tindakan konkrit. Bangsa kita, termasuk para pemimpinnya, lebih senang jadi pedagang daripada produsen.

I : Kita sering mendengar istilah brain drain di mana Indonesia juga tidak terlepas dari fenomena tersebut. Bagaimana efek positif dan negatif brain drain ini untuk Indonesia?

AK : Brain drain ada plus minusnya. Segi positifnya, bila belajar langsung dari sumbernya, akan selalu up-to-date dalam bidang tersebut karena berada di tengah-tengah para ahlinya. Tetapi kalau terus-terusan di luar negeri, apalagi sampai tidak bersedia pulang bahkan ganti kewarganegaraan, ini mungkin subyektif, merupakan sikap melepaskan diri dari tanggung jawab sebagai warga negara yang baik. Mencari pengalaman langsung di luar negeri memang harus, tetapi suatu ketika harus bersedia pulang. Pak Habibie dan Pak Sangkot Marzuki adalah contoh anak bangsa yang sudah besar di luar negeri, punya standing kelas dunia, dan pulang membangun bangsa.

I : Cina dan India, disebut-sebut sebagai negara yang sekarang menikmati apa yang disebut “reverse brain drain”. Talenta-talenta mereka yang dulu di negara-negara maju telah mulai berbondong-bondong kembali ke negaranya. Bagaimana Bapak melihat fenomena ini, apakah untuk Indonesia juga sudah bisa diharapkan?

AK : Kalau ingin me-reverse brain drain, seperti India, Cina atau Korea Selatan, maka pemerintah harus kuat dulu kemampuan ekonominya, sehingga mampu memberi gaji tinggi kepada para ilmuwan WNI kelas dunia. Mungkin baru tahun 2025, yang konon kabarnya, pada saat itu ekonomi Indonesia bisa mencapai kelas lima di dunia.

I : Para SDM teknologi yang berada di LN sering mengatakan bahwa salah satu kendala mereka kembali ke tanah air adalah kemungkinan mengkerutnya wilayah aktualisasi mereka. Dengan kata lain, kurangnya lahan mereka bisa berkiprah. Bagaimana komentar Bapak, dan apa solusinya?

AK : Hal itu tergantung ilmu dan kreatifitas yang bersangkutan. Di lingkungan saya, Puslit Fisika LIPI, ada sarjana-sarjana berprestasi yang bekerja dengan baik di dalam negeri. Di antarnya Dr.Laksamana Tri Handoko, Dr.Bambang Widyatmoko, Dr.Nurul Taufiqur Rahman dan banyak lagi. Mereka meraih penghargaan bergengsi seperti Habibie Award, Bakri Award, atau Toray Award. Selama jejaring terus dibina dengan peer-nya di luar  negeri, disertai niat baik berbakti bagi bangsa dan negara dengan dasar pikiran : ‘kalau bukan saya siapa lagi’, berkiprah di dalam negeri selalu mungkin. Contoh lain, Dr. Warsito, yang baru-baru ini mendapat penghargaan Bakrie Award dan Dikti, yang mempunyai paten alat ultrasonik 4D. Dia mendirikan lab di Tangerang yang mampu menjual alat-alat produksinya ke AS, antara lain NASA dan B&W.

I : Dibandingkan Malaysia, negara tetangga kita yang masih on-track dengan program Malaysia Maju 2020, negara kita sepertinya tertinggal di bidang teknologi, bahkan banyak dari SDM kita sekarang berkiprah di negeri jiran tersebut. Apa seharusnya yang pemerintah lakukan? (Tentunya mengharapkan rasa nasionalisme pribadi saja, tidak cukup.)

AK : Malaysia memang mempunyai program jangka panjang yang dinamai Malaysia 2020. Mereka terus konsisten dengan program tersebut, mengejar dan berhasil seperti sekarang. Adapun Indonesia tidak demikian. Ada banyak faktor yang membuat Indonesia lambat maju. Salah satunya adalah tidak adanya kepemimpinan yang kuat. Setelah Bung Karno dan Pak Harto, Indonesia kehilangan pemimpin yang kuat. Mudah-mudahan Presiden SBY sekarang dapat menjadi pemimpin yang dibutuhkan itu, seperti Mahathir di Malaysia, atau Lee Kuan Yew di Singapura. Menjadi pemimpin yang visioner, berani dan mampu menerawang masa depan bangsa. Pemimpin seperti itu yang sangat kita perlukan.

30 tahun yang lalu banyak mahasiswa Malaysia ditugaskan belajar di Indonesia, juga banyak guru dan dosen Indonesia yang diminta mengajar di Malaysia. Mereka ini banyak menduduki jabatan penting di negara tempat tinggalnya. Indonesia banyak orang pandai, tetapi dalam hal konsistensi dan ketekunan, kurang staminanya. Sistim pemerintahan negara yang lima tahunan menurutnya turut menjadi kendala. Sebab, bila ada pergantian pemerintahan, sangat mungkin program jangka  panjang diganti sesuai selera pemerintah yang baru terbentuk saat itu.

I : SDM teknologi kita yang sekarang berada di tanah air, secara kualitas dan kuantitas sepertinya tidak mengecewakan. Apa yang diperlukan untuk sebuah breakthrough di bidang sains dan teknologi? Ataukah Bapak menganggap SDM kita masih kurang baik secara kuantitas maupun kualitas?

AK : Jumlah dan mutu SDM Indonesia khususnya untuk iptek saat ini, belumlah cukup. Apalagi dengan mempertimbangkan SDM yang lari ke LN dan tidak ingin pulang. Ini menambah parah kondisi negara. Ini semua menjadi tanggung jawab kita bersama, kalau sikap apatis menghinggapi kita semua, Indonesia bukannya makin maju tapi sebaliknya, makin mundur.

I : Bidang-bidang apakah yang sebaiknya diprioritaskan untuk dituntut dan dikembangkan oleh para ilmuwan dan teknologi kita. Apakah perlu ada perbedaan antara prioritas ilmu murni dan terapan? Atau antara ilmu tentang IT dan teknik mesin atau teknik sipil misalnya?

AK : Saat ini, prioritas iptek terfokus pada enam bidang; yaitu pangan, kesehatan, hankm, komunikasi, energi dan material. Tapi lima tahun ke depan, apakah masih akan sama, akan tergantung siapa menterinya. Ini sebab lain mengapa kita lambat maju, karena setiap pemimpin cenderung ingin memaksakan keinginannya sendiri, tanpa mempertimbangkan dalam-dalam kerja sebelumnya.

I : Kami melihat di LN, kolaborasi antara perusahaan dan universitas dalam mengembangkan penelitian sangat erat. Perusahaan memiliki litbang yang lebih dekat kepada terapan iptek, sementara di universitas lebih kepada pendalaman teori dan penemuan baru. Meski ini batasnya juga agak kabur, bagaimana di Indonesia?

AK : Mengenai lambatnya kolaborasi iptek dan industri, hal itu lantaran kecenderungan industri di tanah air yang lebih senang menggunakan teknologi luar negeri dibandingkan teknologi produk anak bangsa sendiri. Lebih parah lagi, banyak yang lebih senang jadi pedagang dibanding produsen. Namun, hal ini pelan-pelan terus diperbaiki dengan berbagai macam insentif dari pemerintah, untuk membantu penggunaan teknologi produk negeri sendiri.

Pak Anung sendiri memiliki pengalaman tinggal di luar negeri yang tidak sebentar, menyelesaikan pendidikan S1 di ITB, beliau meraih gelar S2 dari Brunell University Inggris pada tahun 1977, dan S3 dari Tokyo Institute of Technology pada tahun 1985. Meski sudah memasuki masa pensiun secara formal, saat ini Pak Anung tetap aktif di dunia penelitian, antara lain di Habibie Center, Toray ITFS dan penasehat di DIKTI

Di akhir wawancara dengan Infometrik, Pak Anung berpesan kepada generasi muda yang giat di bidang iptek, “Meski kondisi negara kita saat ini memang belum menempatkan iptek pada prioritas tinggi, masih taraf wacana yang penting diucapkan tapi belum sampai didukung dengan pendanaan yang memadai, tetaplah optimis. Ilmu yang telah dikuasai pada waktunya akan bermanfaat.”



Daftarkan di social page berikut (klik untuk submit):



2 Comments »

  • Handoko said:

    Luar biasa.. terima kasih atas informasinya.
    Saya mohon ijin menyebarkan informasi ini ke milis grup saya (Teknik Fisika ITB), semoga kami2 yang masih muda ini tetap bisa optimis dan kembali membangun negara kita tercinta.

  • Infometrik (author) said:

    Silakan disebarkan. Semua tulisan di INFOMETRIK dapat disebarkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, dengan syarat tetap mencantumkan sumbernya.
    Kami juga mengundang rekan-rekan mahasiswa untuk turut serta menyebarkan ilmu pengetahuan di situs ini.

Tuliskan komentar anda!

You must be logged in to post a comment.