Aplikasi Teknologi, Kolom Tech

PLTN di Indonesia Sebuah Keniscayaan (Bag.1)

16 October 2009 1,210 views penulis: Print This Post Print This Post
reaktor_Mihama

Reaktor Mihama Jepang

Perkembangan Teknologi Nuklir Dunia dan Indonesia

Kebutuhan akan energi telah mendorong semua negara untuk ”berburu” sumber energi baik dari bahan bakar fosil, nuklir sampai energi terbaharukan. Meningkatnya harga minyak dan kebergantungan import bahan bakar energi ditambah lagi aspek lingkungan terutama masalah efek rumah kaca membuat masyarakat dunia berpikir lebih arif dan mendalam untuk menentukan pilihan energi yang dapat memenuhi tuntutan kebutuhan baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang, dan di saat bersamaan energi tersebut bisa ramah dengan lingkungan. Pengembangan energi nuklir untuk tujuan sipil seperti reaktor nuklir untuk pembangkit daya dimulai secara intensif setelah konferensi Geneva “On the peaceful uses of atomic energy” yang di sponsori oleh UN (PBB) tahun 1955. Penggunaan energi nuklir untuk tujuan damai telah dilakukan seperti penerapannya pada kebutuhan pertanian, peternakan, peningkatan kesehatan dan kedokteran, serta kebutuhan industri. Teknologi nuklir yang lebih umum digunakan adalah untuk pembangkit tenaga listrik yang sampai saat ini telah beroperasi di lebih dari 30 negara dan berkontribusi 16% terhadap energi dunia.  Indonesia sebagai sebuah negara yang berdaulat, telah berperan aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya di bidang teknologi nuklir untuk tujuan damai dari sejak lama. Pengalaman hampir 40 tahun lebih dalam mengoperasikan reaktor dan juga berbagai kontribusi di berbagai bidang baik di sektor pertanian, peternakan, farmasi, kedoteran, dan industri memperlihatkan kemampuan yang cukup untuk menembus ke level penggunaan teknologi nuklir untuk pembangkit tenaga listrik.

Perkembangan Teknologi Nuklir di Dunia

Perlombaan negara-negara maju untuk bisa menguasai teknologi maju sudah dimulai sejak terjadinya peperangan baik perang dunia kesatu maupun kedua. Pada era perang dunia kedua, penguasaan teknologi nuklir memungkinkan negara-negara tersebut membuat kapal-kapal perang dengan berpendorong nuklir dan memasukan bahan-bakar nuklir kedalam hulu ledak misilnya. Generasi pertama penggunaan energi nuklir adalah untuk tujuan militer seperti hal nya sebuah reaktor pendorong kapal selam (submarine) (West, J.M. and W.K. Davis, 2001) milik US “Nautilus”, diikuti juga oleh uni soviet atau rusia saat ini dan senjata mematikan seperti bom atom yang pernah di jatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada akhir perang dunia II. Selepas perang duani kedua, dunia semakin sadar akan kehancurannya terutama akibat dijatuhkannya dua bom nuklir dijepang yang menyebabkan banyak korban jiwa. Pengembangan energi nuklir untuk tujuan sipil seperti reaktor nuklir untuk pembangkit daya dimulai secara intensif setelah konferensi genewa “On the peaceful uses of atomic energy” yang di sponsori oleh UN (PBB) tahun 1955. Teknologi nuklir untuk tujuan damai atau untuk menghasilkan listrik bagi penduduk telah dimulai pertama kalinya oleh pemerintah rusia di daerah Obninsk, pada 27 Juni 1954 dengan daya 30 MW. Energi nuklir setelah era perang dunia kedua merupakan energi yang bertujuan kebutuhan sipil, seperti halnya untuk kebutuhan pertanian dan peternakan. Penggunaan teknologi nuklir juga bermanfaat pada peningkatan kesehatan dan kedokteran, serta kebutuhan industri. Teknologi nuklir yang lebih umum digunakan adalah untuk pembangkit tenaga listrik yang dapat membantu supply energi bagi listrik nasional khususnya.

Pembangkit listrik tenaga nuklir (PTLN) didunia sampai 2006 berjumlah 442 buah yang sedang beroperasi secara komersial di 31 negara. Total daya yang dihasilkan 370 GWe yang berkontribusi 16% terhadap energi dunia. Jumlah reaktor nuklir komersial untuk energi di atas belum termasuk reaktor nuklir untuk tujuan riset dan pengembangan di pusat riset dan pengembangan, industri dan universitas. Amerika serikat mempunyai fasilitas PLTN terbanyak didunia, yaitu sekitar 104 PLTN dengan kontribusi 20% listrik disana dari total kebutuhan energi listrik AS yang beroperasi di 30 negara bagian negara tersebut. Di beberapa negara lainya, kontribusi energi nuklir terhadap pasokan listrik nasional cukup signifikan dari total kebutuhan listrik nasional mereka seperti di Prancis sebanyak 75% dari total kebutuhan, Belgia 58%, Swedia 47%, Korea Selatan 43%, Hongaria 38%, Swiss 36%, Jerman 31%, Jepang 36%, Finlandia 33%, spanyol 30%, Inggris 29%, Republik Czech 20%, Kanada 13%, mexico 5%, belanda 4%, dan lain sebagainya. Saat ini sediktinya ada sekitar 27 PLTN baru yang dalam tahap pembangunan.

Renaissance Teknologi Nuklir di Dunia

Pertemuan Paris ministerial conference, maret 2005, tersiratkan 8 negara baru memberikan sinyal positif bagi penggunaan teknologi nuklir diantaranya Maroko, Indonesia, Iran, Poland, Turki, Bangladesh, Mesir and Vietnam. Lebih dari 30 negara lainnya sudah menyatakan tertarik untuk menggunakan teknologi Nuklir dalam pertemuan tersebut.  Hal ini memperlihatkan sebuah indikasi ketertarikan negara-negara khususnya negara berkembang untuk turut andil dalam perkembangan Teknologi Nuklir. Penggunaan reaktor nuklir juga dapat menghasilkan produksi hidrogen untuk keperluan transportasi yang bersih dan keperluan destilinasi air dengan memanfaatkan kelebihan panas. NPT mengisyaratkan adanya kemauan yang begitu keras akan penggunaan teknologi nuklir untuk tujuan damai atau sipil, dimana setiap bahan bakar nuklir di proteksi dan di awasi terutama proses pengayaan dan daur ulang limbah bahan bakar. Pada mulanya perjanjian ini adalah hanya pada ke 5 negara besar pemilik senjata nuklir agar tidak melakukan transfer terknologi senjata nuklir ke Negara lain. Saat ini program itu juga bertujuan untuk pengurangan produksi dan penghancuran senjata nuklir.

Dua penghargaan nobel untuk IAEA sebuah organisasi energi nuklir dunia dan ketuanya Muhammad Al-Baradei pada bulan oktober 2005 juga merupakan babak baru bagi perhatian dunia terhadap energi nuklir untuk keperluan damai dan keperluan sipil. Beberapa faktor di atas mengemuka dan menjadi fase baru “renaissance” bagi nuklir saat ini dan yang akan datang, hal tersebut juga terungkap dalam sebuah konferensi internasional di jepang GLOBAL 2005 Nuclear energy system for future generation and global sustainability yang dihadiri oleh 32 negara dan lebih dari 500 peserta.  Teknologi nuklir merupakan teknologi yang telah lama beroperasi dan well establish sehingga dapat memenuhi kebutuhan energi terutama energi masa depan dalam waktu yang relatif lama. Pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai dan kebutuhan sipil merupakan sebuah kesadaran bersama baik ditingkat global maupun nasional. Keberhasilan mengurangi emisi CO2 yang berdampak pada pemanasan global dan dapat memenuhi tuntutan Kyoto protocol merupakan sebuah dampak signifikan bagi lingkungan global dari penggunaan nuklir.  Produksi hidrogen untuk transportasi yang bersih dan upaya destilinasi air adalah dampak lain dari penggunaan kelebihan panas dari sebuah PLTN. Kemajuan NPT dan penghargaan internasional bagi kemajuan IAEA dan dengan agresif nya program PLTN Negara-negara dunia khusus nya di asia, merupakan awal dari renaissance teknologi nuklir bagi masa sekarang dan yang akan datang.

Pemanfaatan Teknologi Nuklir di Indonesia

Sebagai sebuah bangsa yang besar dan merupakan bagian dari penduduk dunia yang mempunyai keinginan untuk mengembangkan kemampuan bangsanya dalam hal teknologi khususnya untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, bangsa Indonesia menyadari pentingnya hal itu, sehingga muncul keinginan untuk membangun dan mempunyai sendiri fasilitas teknologi nuklir yang dioperasikan di dalam negeri. Kegiatan yang berkaitan dengan teknologi nuklir telah dimulai sejak tahun 1954 yang merupakan saat kali pertama PLTN didunia di resmikan di Rusia. Sejak saat itu, beberapa tahun berselang sekitar empat tahun kemudian, dibentuknya Lembaga Tenaga Atom (LTA). Keinginan untuk terus mengembangkan sendiri dalam aspek riset dan pengembangan ketenaganukliran terus berkembangan, hal ini terungkap dari gagasan-gagasan yang muncul  pada seminar tenaga atom pertama diselenggarakan bersama oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Lembaga Tenaga Atom (LTA) di Bandung pada tahun 1962. Dua tahun berselang tepatnya 1964, didirikanlah BATAN, dan kegiatan implementasi dari pertemuan dibandung tersebut telah dilakukan beberapa studi introduksi PLTN di Indonesia yang secara efektif telah dimulai sejak tahun 1972 dengan pembentukan Komisi Persiapan Pembangunan-PLTN (KP2-PLTN), dan berlangsung hingga saat ini. Untuk itu diperlukan proses penelitian dan pengembangan ketenaganukliran yang diikuti dengan dibangunnya reaktor riset.

Memenuhi rencana introduksi PLTN tersebut, dibangunlah beberapa reaktor riset setelah reaktor pertama dibangung di Bandung. Ada tiga reaktor nuklir penelitian yang sedang beroperasi di Indonesia. Dua dari jenis Triga Mark (Amerika) dan satu reaktor serba guna yang didesain Jerman. Reaktor pertama di Indonesia, Triga Mark II merupakan raktor termis dengan elemen bakar U235 diperkaya 20%, dan pendingin air. Reaktor yang berada di Bandung tersebut diresmikan pada tahun 1965, oleh Presiden Republik Indonesia (Soekarno), dengan daya 250 kW. Namun kemudian dinaikkan dayanya menjadi 1 MW (1971) dan pada 2000 menjadi 2 MW. Reaktor Kartini adalah reaktor riset kedua dengan reaktor jenis yang sama yang merupakan hasil kerja ilmuwan dan tenaga Indonesia dengan arahan General Atomic Amerika. Reaktor dengan daya 100 kW tersebut diresmikan tahun 1979. Reaktor ketiga  dibangun dengan nama G.A. Siwabessy pada tahun 1987, setahun setelah tragedi kecelakaan Chernobyl. Reaktor ketiga ini dibangun didorong oleh kebutuhan akan radioisotop yang makin meningkat dan digunakan untuk pengujian struktur reaktor (material testing reactor), dengan daya 30 MW. Reaktor ini menggunakan elemen bakar lokal (buatan Indonesia). Reaktor yang pertama, kedua, maupun ketiga banyak menghasilkan kerjasama dengan berbagai universitas dan instansi lain, dan banyak sarjana maupun pasca sarjana yang dihasilkan.

Pengalaman Indonesia dalam Pengembangan Teknologi Nuklir

Tidak bisa dipungkiri bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik dan dari pengalaman itulah akan menambah semangat dan kemantapan dalam menjalani kehidupan yang akan datang. Serupa dengan pemanfaatan teknologi di dunia, pengalaman berbagai negara akan sangat berpengaruh dan berperan penting dalam perkembangan teknologi tersebut dalam hal ini aspek riset dan pendidikan menjadi tonggak paling penting dalam sejarah. Dalam hal kemampuan ketenaganukliran, Indonesia telah mempunyai pengalaman lebih dari 50 tahun dalam hal yang berkaitan dengan riset dengan pemanfaatan energi nuklir dan lebih dari 40 tahun untuk penanganan operasional reaktor sejak dibangunnya reaktor pertamanya dibandung tahun 1965. Dari ketiga reaktor yang telah beroperasi di Indonesia tersebut, telah banyak dihasilkan produk-produk untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Baik dalam bidang pertanian, kedokteran, obat-obatan, industri dan lainnya. Penggunaan energi nuklir untuk tujuan pembangkit tenaga listrik masuk dalam program jangka menengah dan panjang dimana tidak hanya kesiapan sumber daya manusia saja, akan tetapi berbagai pertimbangan lainnya termasuk finansial, aspek sosial masyarakat dan perkembangan politik baik nasional, regional maupun internasional.

Pengalaman mengoperasikan reaktor merupakan sebuah batu loncatan untuk memenuhi standar kemampuan dalam mengoperasikan reaktor dengan tujuan memproduksi listrik yang lebih besar lagi. Selama 40 tahun tersebut proses riset dan pengembangan telah dilakukan baik dari operasi reaktor, testing reaktor, pembuatan bahan bakar nuklir, termasuk bagaimana manajemen limbah bahan bakar nuklir. Berbagai studi banding dan pelatihan telah dilakukan dan bekerja sama dengan IAEA untuk mensupervisi indonesia dalam hal persiapan menuju pembangunan PLTN pertama diindonesia. Pengalaman Indonesia itu dapat dibandingkan dengan pengalaman negara-negara Asia lainnya diantaranya India dan Jepang proyek reaktor risetnya dimulai sekitar tahun 1957 dan diikuti beberapa negara lainnya. Pengalaman Indonesia ini merupakan pengalaman yang sangat berharga dan perlu diapresiasi mengingat mahalnya sebuah proses riset dan pengembangan, khususnya dalam rangka memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan rakyat. Pengalaman itu juga bisa menjadi bagian berharga bagi negara lain yang dapat belajar dari Indonesia.

Referensi

  1. Akira Imoto, IAEA activities in support of rising expectation for the role of nuclear power in developing countries, AESJ, Japan, November, 2006.
  2. Badan Tenaga Nuklir Nasional, Energi nuklir sebagai bagian dari sistem energi nasional jangka panjang, 2003.
  3. Book of presentations of Tokyo tech COE-INES-Indonesia International Symposium 2005 , Prospect of Nuclear Energy in Indonesia, Bandung, Indonesia, 2005.
  4. Kusnowo, Arlinah, Aplikasi teknik nuklir, Makalah kapita selekta jurusan teknik fisika, Institute Teknologi bandung, April 2004.
  5. Undang-undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 1997 tentang Ketenaga Nukliran.
  6. Permana, Sidik, Energi Nuklir dan Kebutuhan Energi Masa Depan (Era Renaisans Energi Nuklir Dunia dan Energi Nuklir Indonesaia), Majalah Inovasi Vol 5/XVII/November/2005, PPI Jepang, 2005.
  7. West, J.M. and W.K. Davis, 2001, The creation and beyond: Evolutions in US nuclear power development, Nuclear News, June 2001.
  8. http://www.icjt.org/an/tech/jesvet/jesvet.htm
  9. http://www.aboutnuclear.org/view.cgi?fC=Electricity,Global_Map_of_Nuclear_Power_Plants


Daftarkan di social page berikut (klik untuk submit):



One Comment »

  • ayuq said:

    lok prkmbangan iptek d’bidang transportasi pd msa perang dunia mna ya?
    pleace…
    q tggu ya

Tuliskan komentar anda!

You must be logged in to post a comment.