Featured, Headline, Motivasi, Selingan, Teknologi Industri

Meiwaku Kakemasenka

15 April 2014 484 views penulis: Print This Post Print This Post

Jika kita pernah naik kereta listrik atau bus di Jepang, sering kita jumpai adanya kursi prioritas, yang dalam bahasa aslinya disebut yuusenseki. Kursi prioritas ini adalah tempat duduk yang diperuntukkan untuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Empat golongan yang diprioritaskan untuk duduk di tempat itu adalah: orang cacat, ibu hamil, penderita sakit, dan para lansia. Dalam kenyatannya sehari-hari, terkadang kursi ini dipakai pula oleh mereka yang sehat. Namun sudah umum terjadi, jika di dalam alat transportasi tersebut terdapat penumpang yang berhak atas kursi itu, maka secara otomatis si sehat akan berdiri dan melungsurkan kursi prioritasnya. Layaknya sebuah norma, aturan ini mengakar meskipun penerapaannya tidaklah harus melalui jalur penegakan hukum yang keras. Rasa malu akan menghinggapi jiwa mereka, ketika mendapati penumpang berketerbatasan fisik, sementara mereka duduk manis di kursi prioritas. Adakah rasa malu yang sama juga hadir di hati kita, orang Indonesia?

Tak hanya itu, bersitan rasa malu ini turut terakumulasi dengan rasa bersalah. Merasa bersalah ketika melihat orang lain menjadi susah. Merasa bersalah ketika menyadari perbuatannya yang merugikan orang lain. Rasa bersalah yang mengetuk-ngetuk isi kepala mereka; meiwaku kakemasenka. Apakah tindakan saya menyusahkan orang lain?

Coba tengok tindakan tak bertanggung jawab lainnya, misalnya membuang sampah tidak pada tempatnya. Sampah yang dibuang sembarangan pastinya akan membuat pengguna jalan lain merasa tak nyaman. Coba kumpulkan saja beberasa alasannya; entah karena keindahan yang terganggu, cemaran dari bau, penyempitan area pejalan kaki, dan masih banyak lagi daftar panjang buruknya. Saat kita akan membuang sampah, pernahkan kita berpikir bahwa sampah yang kita buang sembarangan akan menyusahkan orang lain?

Saat kita mendahului pengendara lain melalui jalur kiri dengan kecepatan tinggi, pernahkan kita merenungkan tindakan yang akan membahayakan pengendara lain itu? Jika kecelakaan benar terjadi, bukankah akan lebih banyak lagi yang akan kita buat susah: si korban, keluarga korban, polisi lalu lintas, dan pengendara lain?

Di dalam proses membuat barang, produk cacat dapat terjadi karena kesalahan dalam proses maupun di luar proses produksi. SOP dibuat sebagai pedoman untuk mencegah terjadinya produk cacat. Tetapi, adanya SOP pun belum 100% bisa mencegah terjadinya produk cacat jika kesadaran diri masing-masing karyawan masih kurang memadai. Tindakan meloloskan produk cacat pastinya akan meiwaku alias mengganggu customer.

Pernahkan terbayang, jika produk cacat yang diloloskan akan menyusahkan kerja operator selanjutnya? Bahkan, lebih luasnya lagi, hal ini akan mengganggu pengguna barang yang menjadi tujuan akhir sebuah proses produksi?

Efek akhirnya dapat ditebak: menurunnya kepercayaan customer akan produk yang dihasilkan. Penurunan kepercayaan ini berdampak pada penurunan produksi. Dan, pada akhirnya, kita harus cukup bijak untuk menyadari bahwa penurunan produksi amat lekat dengan penurunan penghasilan bagi kita sendiri. Sudah umum jika penurunan penghasilan ini akan menjadi hal yang meiwaku bagi keluarga kita.

Dalam hal ini, marilah bersama mengambil hikmah dari tingginya kesadaran orang Jepang. Mulailah dari hal yang kecil. Mulailah dari sekarang. Mulailah menyadari kerugian-kerugian apa saja yang mungkin timbul akibat tindakan kita. Belajarlah untuk sedikit bertanggung jawab pada masa depan setiap keputusan yang kita ambil. Berlatihlah untuk bersikap jujur dalam bekerja.

Dengan kesadaran penuh bahwa perusahaan menetapkan aturan kerja demi kelancaran proses kerja di dalam perusahaan, ketuklah hati kita untuk melaksanakannya dengan penuh kesadaran, jujur, dan bertanggung jawab. Hanya perlu sedikit usaha untuk memulai suatu perubahan besar. Sedikit usaha yang lebih dari yang lain. Sedikit usaha yang lebih dari yang biasa kita lakukan.

Silahkan hapalkan dan praktikkan mantra ajaib ini dalam kehidupan sehari-hari. Dan lihatlah bagaimana cara ia bekerja menjadikan kita pribadi yang rendah hati, berkarakter, dan sukses. MEIWAKU KAKEMASENKA?(AHen)

Profil singkat penulis :

Azis Hendratno

Lahir di Mataram, 8 Maret 1981, menyelesaikan S1(Electronic Engineering) di The Polytechnic University, Kanagawa, Jepang. Pernah bekerja di PT. Indonesia Epson Industry + 2 tahun sebagai product engineer. Depnakertrans + 2 tahun sebagai staff di Direktorat Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas. Sejak tahun 2008 sampai sekarang masih bekerja di PT. Denso Indonesia sebagai kontroler di Departemen Produksi.

MEIWAKU KAKEMASENKA

Jika kita pernah naik kereta listrik atau bus di Jepang, sering kita jumpai adanya kursi prioritas, yang dalam bahasa aslinya disebut yuusenseki. Kursi prioritas ini adalah tempat duduk yang diperuntukkan untuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Empat golongan yang diprioritaskan untuk duduk di tempat itu adalah: orang cacat, ibu hamil, penderita sakit, dan para lansia.

Dalam kenyatannya sehari-hari, terkadang kursi ini dipakai pula oleh mereka yang sehat. Namun sudah umum terjadi, jika di dalam alat transportasi tersebut terdapat penumpang yang berhak atas kursi itu, maka secara otomatis si sehat akan berdiri dan melungsurkan kursi prioritasnya. Layaknya sebuah norma, aturan ini mengakar meskipun penerapaannya tidaklah harus melalui jalur penegakan hukum yang keras. Rasa malu akan menghinggapi jiwa mereka, ketika mendapati penumpang berketerbatasan fisik, sementara mereka duduk manis di kursi prioritas. Adakah rasa malu yang sama juga hadir di hati kita, orang Indonesia?

Tak hanya itu, bersitan rasa malu ini turut terakumulasi dengan rasa bersalah. Merasa bersalah ketika melihat orang lain menjadi susah. Merasa bersalah ketika menyadari perbuatannya yang merugikan orang lain. Rasa bersalah yang mengetuk-ngetuk isi kepala mereka; meiwaku kakemasenka. Apakah tindakan saya menyusahkan orang lain?

Coba tengok tindakan tak bertanggung jawab lainnya, misalnya membuang sampah tidak pada tempatnya. Sampah yang dibuang sembarangan pastinya akan membuat pengguna jalan lain merasa tak nyaman. Coba kumpulkan saja beberasa alasannya; entah karena keindahan yang terganggu, cemaran dari bau, penyempitan area pejalan kaki, dan masih banyak lagi daftar panjang buruknya. Saat kita akan membuang sampah, pernahkan kita berpikir bahwa sampah yang kita buang sembarangan akan menyusahkan orang lain?

Saat kita mendahului pengendara lain melalui jalur kiri dengan kecepatan tinggi, pernahkan kita merenungkan tindakan yang akan membahayakan pengendara lain itu? Jika kecelakaan benar terjadi, bukankah akan lebih banyak lagi yang akan kita buat susah: si korban, keluarga korban, polisi lalu lintas, dan pengendara lain?

Di dalam proses membuat barang, produk cacat dapat terjadi karena kesalahan dalam proses maupun di luar proses produksi. SOP dibuat sebagai pedoman untuk mencegah terjadinya produk cacat. Tetapi, adanya SOP pun belum 100% bisa mencegah terjadinya produk cacat jika kesadaran diri masing-masing karyawan masih kurang memadai. Tindakan meloloskan produk cacat pastinya akan meiwaku alias mengganggu customer.

Pernahkan terbayang, jika produk cacat yang diloloskan akan menyusahkan kerja operator selanjutnya? Bahkan, lebih luasnya lagi, hal ini akan mengganggu pengguna barang yang menjadi tujuan akhir sebuah proses produksi?

Efek akhirnya dapat ditebak: menurunnya kepercayaan customer akan produk yang dihasilkan. Penurunan kepercayaan ini berdampak pada penurunan produksi. Dan, pada akhirnya, kita harus cukup bijak untuk menyadari bahwa penurunan produksi amat lekat dengan penurunan penghasilan bagi kita sendiri. Sudah umum jika penurunan penghasilan ini akan menjadi hal yang meiwaku bagi keluarga kita.

Dalam hal ini, marilah bersama mengambil hikmah dari tingginya kesadaran orang Jepang. Mulailah dari hal yang kecil. Mulailah dari sekarang. Mulailah menyadari kerugian-kerugian apa saja yang mungkin timbul akibat tindakan kita. Belajarlah untuk sedikit bertanggung jawab pada masa depan setiap keputusan yang kita ambil. Berlatihlah untuk bersikap jujur dalam bekerja.

Dengan kesadaran penuh bahwa perusahaan menetapkan aturan kerja demi kelancaran proses kerja di dalam perusahaan, ketuklah hati kita untuk melaksanakannya dengan penuh kesadaran, jujur, dan bertanggung jawab. Hanya perlu sedikit usaha untuk memulai suatu perubahan besar. Sedikit usaha yang lebih dari yang lain. Sedikit usaha yang lebih dari yang biasa kita lakukan.

Silahkan hapalkan dan praktikkan mantra ajaib ini dalam kehidupan sehari-hari. Dan lihatlah bagaimana cara ia bekerja menjadikan kita pribadi yang rendah hati, berkarakter, dan sukses. MEIWAKU KAKEMASENKA?(AHen)

Profil singkat penulis :

Azis Hendratno

Lahir di Mataram, 8 Maret 1981, menyelesaikan S1(Electronic Engineering) di The Polytechnic University, Kanagawa, Jepang. Pernah bekerja di PT. Indonesia Epson Industry + 2 tahun sebagai product engineer. Depnakertrans + 2 tahun sebagai staff di Direktorat Pembi

MEIWAKU KAKEMASENKA

Jika kita pernah naik kereta listrik atau bus di Jepang, sering kita jumpai adanya kursi prioritas, yang dalam bahasa aslinya disebut yuusenseki. Kursi prioritas ini adalah tempat duduk yang diperuntukkan untuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Empat golongan yang diprioritaskan untuk duduk di tempat itu adalah: orang cacat, ibu hamil, penderita sakit, dan para lansia.

Dalam kenyatannya  sehari-hari,  terkadang kursi ini dipakai pula oleh mereka yang  sehat. Namun sudah umum terjadi, jika di dalam alat transportasi tersebut terdapat penumpang yang berhak atas kursi itu, maka secara otomatis si sehat akan berdiri dan melungsurkan kursi prioritasnya. Layaknya sebuah norma, aturan ini mengakar meskipun penerapaannya tidaklah harus melalui jalur penegakan hukum yang keras. Rasa malu akan menghinggapi jiwa mereka, ketika mendapati penumpang berketerbatasan fisik, sementara mereka duduk manis di kursi prioritas. Adakah rasa malu yang sama juga hadir di hati kita, orang Indonesia?

Tak hanya itu, bersitan rasa malu ini turut terakumulasi dengan rasa bersalah. Merasa bersalah ketika melihat orang lain menjadi susah. Merasa bersalah ketika menyadari perbuatannya yang merugikan orang lain. Rasa bersalah yang mengetuk-ngetuk isi kepala mereka; meiwaku kakemasenka. Apakah tindakan saya menyusahkan orang lain?

Coba tengok tindakan tak bertanggung jawab lainnya, misalnya  membuang sampah tidak pada tempatnya. Sampah yang dibuang sembarangan pastinya akan membuat pengguna jalan lain merasa tak nyaman. Coba kumpulkan saja beberasa alasannya; entah karena keindahan yang terganggu, cemaran dari bau, penyempitan area pejalan kaki, dan masih banyak lagi daftar panjang buruknya. Saat kita akan membuang sampah, pernahkan kita berpikir bahwa sampah yang kita buang sembarangan akan menyusahkan orang lain?

Saat kita mendahului pengendara lain melalui jalur kiri dengan kecepatan tinggi, pernahkan kita merenungkan tindakan yang akan membahayakan pengendara lain itu? Jika kecelakaan benar terjadi, bukankah akan lebih banyak lagi yang akan kita buat susah: si korban, keluarga korban, polisi lalu lintas, dan pengendara lain?

Di dalam proses membuat barang, produk cacat dapat terjadi karena kesalahan dalam  proses maupun di luar proses produksi. SOP dibuat sebagai pedoman untuk mencegah  terjadinya produk cacat. Tetapi, adanya SOP pun belum 100% bisa mencegah terjadinya produk cacat jika kesadaran diri masing-masing karyawan masih kurang memadai. Tindakan meloloskan  produk cacat pastinya akan meiwaku alias mengganggu customer.

Pernahkan terbayang, jika produk cacat yang diloloskan akan menyusahkan  kerja operator selanjutnya? Bahkan, lebih  luasnya lagi, hal ini akan mengganggu pengguna barang yang menjadi tujuan akhir sebuah proses produksi?

Efek akhirnya dapat ditebak: menurunnya kepercayaan customer akan produk yang dihasilkan. Penurunan kepercayaan ini berdampak pada penurunan produksi. Dan, pada akhirnya, kita harus cukup bijak untuk menyadari bahwa penurunan produksi amat lekat dengan penurunan penghasilan bagi kita sendiri. Sudah umum jika penurunan penghasilan ini akan menjadi hal yang  meiwaku bagi keluarga kita.

Dalam hal ini, marilah bersama mengambil hikmah dari tingginya kesadaran orang Jepang. Mulailah dari hal yang kecil. Mulailah dari sekarang. Mulailah menyadari kerugian-kerugian apa saja yang mungkin timbul akibat tindakan kita. Belajarlah untuk sedikit bertanggung jawab pada masa depan setiap keputusan yang kita ambil. Berlatihlah untuk bersikap jujur dalam bekerja.

Dengan kesadaran penuh bahwa perusahaan menetapkan aturan kerja demi kelancaran proses kerja di dalam perusahaan, ketuklah hati kita untuk melaksanakannya dengan penuh kesadaran, jujur, dan bertanggung jawab. Hanya perlu sedikit usaha untuk memulai suatu perubahan besar. Sedikit usaha yang lebih dari yang lain. Sedikit usaha yang lebih dari yang biasa kita lakukan.

Silahkan hapalkan dan praktikkan mantra ajaib ini dalam kehidupan sehari-hari. Dan lihatlah bagaimana cara ia bekerja menjadikan kita pribadi yang rendah hati, berkarakter, dan sukses. MEIWAKU KAKEMASENKA?(AHen)

Profil singkat penulis :

Azis Hendratno

Lahir di Mataram, 8 Maret 1981, menyelesaikan S1(Electronic Engineering) di The Polytechnic University, Kanagawa, Jepang. Pernah bekerja di PT. Indonesia Epson Industry + 2 tahun sebagai product engineer. Depnakertrans + 2 tahun sebagai staff di Direktorat Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas. Sejak tahun 2008 sampai sekarang masih bekerja di PT. Denso Indonesia sebagai kontroler di Departemen Produksi.

naan Pelatihan dan Produktivitas. Sejak tahun 2008 sampai sekarang masih bekerja di PT. Denso Indonesia sebagai kontroler di Departemen Produksi.



Daftarkan di social page berikut (klik untuk submit):



Tuliskan komentar anda!

You must be logged in to post a comment.