Featured, Headline, Manufaktur, Teknologi Industri

Membangun Kultur Mengejar Kualitas

21 August 2015 164 views penulis: Azhari Sastranegara Print This Post Print This Post

Dewasa ini kualitas produk telah menjadi isu yang sangat merakyat terutama di negara-negara maju. Mekanisme pasar telah menjadikan kehendak pelanggan sebagai hakim dalam menentukan kualitas suatu barang. Definisi kualitas juga telah berubah dari sekedar memenuhi semua persyaratan teknis dan fungsi menjadi “memenuhi syarat fungsional plus memenuhi keinginan pemakai”. Khusus dalam hal yang berhubungan dengan keamanan, persyaratan kualitas saat ini sudah sangat ketat sampai pada level yang belum pernah dibayangkan dunia manufaktur dua atau tiga dekade sebelumnya.

Sepanjang paruh pertama tahun 2015,  dunia otomotif di Amerika dihangatkan dengan berita recall sekitar 4 juta unit mobil dan jumlah ini diperkirakan masih akan bertambah sampai puluhan juta unit (1). Masalahnya ada pada kantung udara (airbag) yang gagal berfungsi sempurna saat tabrakan. Dari hasil penyelidikan awal dicurigai 5 orang tewas terkait masalah ini. Walaupun masih dalam taraf penyelidikan  pabrikan besar tidak mau mempertaruhkan kredibilitas jika sampai ada korban jiwa lebih banyak lagi, sebab itu diputuskan recall semua unit yang memakai airbag jenis yang sama. Jumlahnya menjadi sangat banyak sebab 1 di antara 7 mobil penumpang di Amerika kabarnya memakai airbag yang sama. Kejadian ini tentu merupakan pukulan mematikan bagi perusahaan pembuat airbag tersebut. Tetapi apa boleh buat, demikianlah cara industri otomotif menjaga kepercayaan pemakainya.

Industri otomotif, kereta dan pesawat terbang dikenal sebagai industri produk massal dengan standar kualitas tertinggi. Sebagai gambaran, kereta peluru Shinkansen milik Jepang selama 50 tahun lebih beroperasi, belum memiliki catatan malfunction yang fatal (2). Bagi produsen kereta ini, 1 kali malfunction sudah merupakan aib yang tiada taranya. Karena itu mereka memiliki standar kualitas yang sangat tinggi yang diberlakukan untuk semua komponen yang dilakai di Shinkansen.

Standar jumlah produk cacat yang ditolerir industri selama bertahun-tahun juga telah bergeser. Saat ini yang menjadi target bukan lagi produk cacat dengan orde beberapa ppm (part per million) tetapi “zero customer claim”, yaitu tidak ada keluhan pelanggan. Filosofinya, 1 produk cacat dalam sejuta produk dari sisi produsen adalah 1 ppm, tapi dari sisi sang pemakai yang hanya membeli satu produk tingkat cacatnya adalah 100 persen.

Untuk menjaga kualitas produksi, ada banyak standar internasional yang diterapkan. Penerapan standar ini telah terbukti cukup ampuh dalam meningkatkan penjagaan kualitas secara umum. Standar yang paling banyak diterapkan adalah ISO9001 secara umum dan ISO/TS16949 untuk industri otomotif. Untuk menjaga proses produksi berjalan maksimal ada berbagai macam metode penjagaan kualitas seperti Total Quality Management (TQM) atau Six Sigma dengan masing-masing karakternya yang unik.

Tak terkecuali di negara kita, bermacam standar dan metode di atas telah mulai banyak diterapkan sebagai konsekuensi wajar dari tuntutan pasar terlebih lagi untuk jenis produk yang diekspor ke luar negeri. Akan tetapi membangun kualitas tidak selesai dengan mendapatkan sertifikasi ISO atau dengan menerapkan metode TQM saja.

Sebagian penanggung jawab kualitas produksi di perusahaan merasa puas jika mereka mendapatkan bermacam sertifikasi. Kenyataannya, dari 5 komponen yang mempengaruhi kualitas produksi, atau yang biasa disebut 5M (man, machine, material, measuremet, method), yang paling mempengaruhi kualitas produksi adalah kemampuan dan kesadaran setiap orang yang terlibat dalam proses produksi. Bila kualitas SDM buruk, sebaik apapun 4M yang lain produk yang dihasilkan tetap akan bermasalah. Karena itu kita menemukan betapa banyak perusahaan yang sudah berhasil mendapatkan sertifikasi kualitas dari badan penilai internasional tetap tidak mampu mencapai kondisi “zero claim”.

Dari pengalaman di lapangan dan hasil tinjauan beragam pabrik yang telah terbukti hampir mencapai kondisi zero claim, rahasia kualitas dari sisi sumber daya manusia kira-kira bisa disimpulkan sebagai berikut:

1. Setiap karyawan mencintai pekerjaannya dan mereka merasa seolah-olah pekerjaannya itulah yang paling penting di dunia. Karena itu mereka bekerja sebaik-baiknya dan se-profesional mungkin.

2. Setiap karyawan ingin meringankan beban orang lain sehingga tidak merepotkan mereka dengan produk yang cacat. Dalam teori TQM ini disebut dengan istilah “next process is my customer“, proses produksi sesudah saya adalah pelanggan saya karena itu saya tidak boleh memberi mereka produk cacat.

3. Keinginan melahirkan produk berkualitas timbul dari dalam diri setiap karyawan. Sehingga sikap selalu memberikan kualitas terbaik telah menjadi kultur yang dijunjung dengan penuh rasa bangga dan tanggung jawab.

Bila suatu perusahaan telah mampu mencapai tiga kondisi di atas berarti kultur dan pola pikir mengutamakan kualitas telah melekat dan menjadi budaya. Layaknya tubuh yang memerlukan oksigen, tanpa banyak hukuman dan perintah hidung dan paru paru bekerjasama dengan baik melakukan tugasnya. Dalam kondisi ini target “zero customer claim” akan lebih mudah dan lebih cepat tercapai.

Referensi:

(1)  http://icsw.nhtsa.gov/safercar/rs/takata/

(2) http://english.jr-central.co.jp/about/safety.html



Daftarkan di social page berikut (klik untuk submit):



Tuliskan komentar anda!

You must be logged in to post a comment.